Cerpen | Pelangi Dan Si Pemuja Rahasia

Langit senja sudah memerah ketika Pelangi kembali melangkahkan kakinya keluar dari gerbang kampus. Dia menghela napas panjang, melepas lelah setelah seharian bergelut dengan tugas dan presentasi. Suara derap sepatunya yang pelan beradu dengan lantai trotoar, namun ada sesuatu yang lebih menggema di pikirannya—sebuah surat.

Sudah hampir sebulan, Pelangi menerima surat-surat tanpa nama. Setiap pagi, ketika dia membuka loker kampus, ada secarik kertas kecil yang terselip di sana. Surat itu sederhana, namun setiap katanya begitu mendalam. Tak ada pengakuan cinta yang terburu-buru, hanya puisi-puisi pendek tentang kekaguman, tentang langit dan hujan, tentang hal-hal kecil yang membuat dunia ini lebih indah. Pelangi mulai menganggap ini sebagai rutinitas yang manis, meski dia tak pernah tahu siapa pengirimnya.

Malam itu, sepulang dari kampus, Pelangi kembali menemukan surat lain di dalam lokernya. Kali ini suratnya lebih singkat dari biasanya.

Jika kau ingin tahu siapa aku, temui aku di taman kampus malam ini, di bawah pohon besar. Aku akan menunggumu, seperti biasanya menunggu senyummu yang selalu mencuri perhatianku._

Pelangi terdiam. Ini pertama kalinya si pengirim surat meminta pertemuan. Ia tak tahu harus merasa apa—penasaran, senang, atau justru takut Namun, hatinya yang dipenuhi rasa ingin tahu mendorongnya untuk berangkat ke taman malam itu.

Di taman, langit sudah gelap, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang menggantung pucat di atas sana. Pohon besar yang disebut dalam surat itu berdiri angkuh, bayangannya jatuh panjang ke tanah. Pelangi berhenti sejenak, memandang sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Hanya angin yang berembus, menggoyangkan dedaunan.

“Kamu datang…”

Sebuah suara lembut memecah kesunyian. Pelangi menoleh, dan dari bayangan pohon, muncul sesosok pria yang selama ini hanya dia kenal sebagai teman sekelas—Arga. Pelangi terkejut, dia tak menyangka orang yang diam-diam mengirimkan surat itu adalah Arga. Pria pendiam yang selalu duduk di pojok kelas, jarang berbicara kecuali jika ditanya dosen.

“Kamu yang selama ini mengirimkan surat-surat itu” tanya Pelangi dengan suara bergetar.

Arga tersenyum kecil, mengangguk. “Aku tahu ini mungkin terdengar aneh. Tapi, aku hanya berani mengungkapkan perasaanku lewat surat. Aku takut, jika aku langsung mendekat, kamu akan menolakku.”

Pelangi terdiam. Ada rasa hangat menjalar di hatinya, antara rasa terkejut dan tersentuh oleh keberanian Arga yang akhirnya mau muncul di hadapannya. “Kenapa kamu memilih aku” tanyanya lirih.

Arga menunduk sejenak sebelum menjawab. “Karena kamu berbeda. Cara kamu tertawa, cara kamu bicara, semuanya memikat. Setiap kali kamu tersenyum, rasanya dunia jadi lebih cerah.”

Keduanya terdiam, seolah waktu berhenti sejenak di antara mereka. Pelangi tak tahu harus berkata apa. Tapi dalam hatinya, ada benih perasaan yang mulai tumbuh—perasaan bahwa seseorang selama ini memperhatikannya dengan tulus, dari kejauhan.

“Aku... aku tidak tahu harus bilang apa, Arga,” kata Pelangi akhirnya. “Tapi, terima kasih. Kamu membuat hari-hariku menjadi lebih istimewa.”

Arga tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. “Aku tak mengharapkan apa pun, Pelangi. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu berarti.”

Malam itu, di bawah pohon besar yang sama, dua orang berdiri dalam keheningan. Pelangi belum tahu apakah dia bisa membalas perasaan Arga, tapi dia merasa malam itu telah mengubah banyak hal. Ada kehangatan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya—sebuah kehadiran yang selama ini tak dia sadari, namun ternyata selalu ada di dekatnya.

Dan meski dunia mungkin tak selalu seindah puisi, Pelangi tahu, bahwa mulai saat ini, dia tak lagi berjalan sendirian.

DONASI VIA PAYPAL Mohon Bantuannya Untuk Berdonasi Jika Anda Merasa Artikel Ini Bermanfaat. Donasi Akan Digunakan Untuk Pertumbuhan Blog Ini www.yusm11.blogspot.com. Terima Kasih.

ARTIKEL TERKAIT

Posting Komentar

0 Komentar